Analisis menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Musi Banyuasin mengalami tren penurunan cukup signifikan: dari 23% pada 2021 menjadi 16,5% pada 2023, dan turun lagi menjadi 0,79% (407 balita) pada 2024 berdasarkan data e-PPGBM. Faktor penyebab utama meliputi rendahnya asupan gizi, infeksi berulang, pola asuh yang kurang tepat, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta kondisi sosial ekonomi keluarga. Kajian ini juga menyoroti hubungan erat antara kemiskinan dan stunting, yang memperburuk daya beli serta akses terhadap makanan bergizi dan sanitasi layak.
Sebagai intervensi, pemerintah daerah meluncurkan program inovatif Bunda AS (Bimbingan dan Pendampingan Anak Sehat), berupa pemberian makanan tambahan berbasis kearifan lokal, edukasi gizi, serta pendampingan keluarga. Program ini terbukti menurunkan kasus stunting baru dan memperbaiki kondisi balita serta ibu hamil dengan risiko kekurangan energi kronis (KEK).
Secara keseluruhan, kajian ini menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor, integrasi data, serta partisipasi masyarakat dalam upaya penurunan stunting. Dengan strategi yang terarah, Musi Banyuasin diharapkan mampu mencapai target nasional penurunan stunting 14% pada 2024, sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di masa depan.
.png)
0 Comments:
Posting Komentar